Analisis Sultra Agency Barakati membaca peluang di balik arus wisatawan, konektivitas, hotel, dan suara publik
SULAWESI TENGGARA memiliki modal yang sulit ditandingi.
KENDARI – Laut biru, gugusan pulau, terumbu karang, bentang alam, kekayaan budaya, sejarah Kesultanan Buton, hingga masyarakat pesisir yang hidup berdampingan dengan laut. Wakatobi bahkan telah lama menjadi salah satu nama penting dalam peta wisata bahari Indonesia.
Namun ada sebuah paradoks.
Banyak orang tertarik dengan Sulawesi Tenggara, tetapi belum tentu bertahan lama setelah tiba.
Persoalannya bukan karena Sulawesi Tenggara tidak menarik. Justru sebaliknya. Persoalan muncul pada apa yang terjadi setelah wisatawan memutuskan untuk datang.
Dari pembacaan terhadap data BPS, pemberitaan, informasi pemerintah, serta percakapan publik yang terindeks melalui pendekatan Open Source Intelligence (OSINT), terlihat satu pola yang cukup jelas:
Sulawesi Tenggara memiliki daya tarik wisata yang kuat, tetapi masih menghadapi kesenjangan akses, infrastruktur, akomodasi, dan pengalaman wisata.
Dan justru di situlah peluang besarnya.
Ketika Pesawat dan Kapal Membawa Wisatawan Masuk
Arus mobilitas menuju Sulawesi Tenggara sebenarnya cukup besar.
Pada Januari 2026, misalnya, terdapat 58.797 penumpang datang melalui angkutan udara. Pada Maret jumlahnya meningkat menjadi 72.439 penumpang.
Namun jalur laut memperlihatkan angka yang jauh lebih besar.
Pada Januari 2026, penumpang kapal yang datang mencapai 122.643 orang, sementara pada Maret mencapai 171.764 orang.
Dengan demikian, pada Januari kedatangan melalui laut sekitar 2,09 kali kedatangan melalui udara. Pada Maret, perbandingannya mencapai sekitar 2,37 kali.
Angka tersebut tentu tidak dapat serta-merta disebut sebagai jumlah wisatawan karena penumpang pesawat dan kapal juga terdiri atas penduduk lokal, pekerja, pelajar, perjalanan bisnis, dan berbagai keperluan lainnya.
Tetapi data itu memberikan satu pesan penting:
Sulawesi Tenggara memiliki arus mobilitas yang besar.
Dan sebagian dari arus tersebut berpotensi dikonversi menjadi perjalanan wisata.
Laut Bukan Sekadar Jalur Transportasi
Selama ini pembicaraan mengenai pariwisata sering terlalu berpusat pada bandara.
Padahal karakter geografis Sulawesi Tenggara membuat laut mempunyai posisi yang sangat strategis.
Kapal bukan sekadar alat transportasi.
Ia dapat menjadi bagian dari produk wisata itu sendiri.
Bayangkan sebuah ekosistem:
Kendari → Baubau → Wakatobi → Muna → Buton → Kabaena → Konawe Kepulauan
bukan sekadar sebagai jalur perpindahan, tetapi sebagai rangkaian pengalaman:
island hopping – diving – snorkeling – heritage – kuliner – budaya – adventure – sunset – marine experience.
Jika konektivitas tersebut dikemas dengan baik, perjalanan antarpulau yang selama ini dianggap sebagai hambatan justru dapat berubah menjadi produk wisata.
Dari “Datang” Menjadi “Tinggal”
Di sinilah persoalan Sulawesi Tenggara mulai terlihat.
Data hotel menunjukkan bahwa wisatawan yang datang belum otomatis menjadi wisatawan yang menginap lama.
Pada Desember 2025, rata-rata lama menginap tamu hotel bintang di Sulawesi Tenggara hanya sekitar 1,13 malam. Pada Januari 2026 sekitar 1,11 malam.
Angka ini memberi pesan sederhana:
Wisatawan datang, tetapi belum cukup lama tinggal.
Padahal bagi daerah tujuan wisata, lama tinggal merupakan salah satu faktor penting yang menentukan besarnya dampak ekonomi.
Wisatawan yang tinggal satu malam tentu berbeda dengan wisatawan yang tinggal tiga atau empat malam.
Semakin panjang masa tinggal, semakin banyak kemungkinan uang berputar di daerah:
hotel → restoran → transportasi → pemandu → UMKM → atraksi → oleh-oleh → masyarakat lokal.
Karena itu, target pariwisata tidak cukup hanya:
“Berapa orang yang datang?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Berapa lama mereka tinggal dan berapa banyak yang mereka belanjakan?”
Hotel: Bukan Sekadar Jumlah Kamar
Data akomodasi Sulawesi Tenggara juga memperlihatkan persoalan lain.
Konsentrasi hotel masih sangat kuat di pusat-pusat kota.
Kota Kendari pada 2024 tercatat memiliki sekitar 119 hotel/akomodasi, terdiri atas hotel berbintang dan akomodasi lainnya.
Sementara sejumlah destinasi yang mempunyai daya tarik wisata alam dan bahari justru memiliki jumlah akomodasi jauh lebih terbatas.
Di sinilah muncul sebuah mismatch:
Hotel banyak berada di tempat wisatawan bekerja atau transit, sementara sebagian destinasi yang ingin dijual kepada wisatawan justru kekurangan akomodasi berkualitas.
Akibatnya, pola perjalanan dapat berubah menjadi:
Datang → melihat destinasi → kembali ke kota → menginap.
Bukan:
Datang → menginap di destinasi → menikmati pengalaman → belanja → mengikuti aktivitas → menginap lagi.
Perbedaan kecil dalam pola perjalanan tersebut mempunyai dampak ekonomi yang sangat besar.
Apa Kata Publik?
Sultra Agency Barakati melakukan pendekatan OSINT memberikan gambaran yang menarik.
Ketika berbagai pemberitaan dan percakapan publik dibaca secara bersamaan, sentimen terhadap pariwisata Sulawesi Tenggara tidak dapat dikategorikan sebagai negatif.
Justru sebaliknya.
Sentimen terhadap destinasi cenderung positif.
Keindahan alam, wisata bahari, Wakatobi, pulau-pulau kecil, budaya, dan kekayaan bawah laut menjadi kekuatan utama.
Namun ketika pembicaraan bergeser dari:
“Seperti apa tempatnya?”
menjadi:
“Bagaimana saya menuju ke sana?”
muncul persoalan.
Akses penerbangan.
Transportasi antarpulau.
Jalan.
Pelabuhan.
Air bersih.
Fasilitas wisata.
Akomodasi.
Ketersediaan layanan.
Inilah yang disebut sebagai experience friction.
Paradoks Pariwisata Sultra
Jika suara publik tersebut disederhanakan, kira-kira narasinya menjadi seperti ini:
🟢 “Tempatnya bagus.”
Wakatobi, Muna, Buton, Kabaena, Konawe Kepulauan dan berbagai destinasi lainnya memiliki daya tarik yang kuat.
🟡 “Bagaimana cara ke sana?”
Konektivitas menjadi pertanyaan penting, terutama untuk destinasi kepulauan.
🔴 “Kalau sudah sampai, bagaimana fasilitasnya?”
Di sinilah berbagai keluhan mengenai infrastruktur dan fasilitas mulai memengaruhi pengalaman.
Maka persoalan Sultra bukan:
Lack of attraction.
Melainkan:
Lack of accessibility, experience and conversion.
Kendari Bisa Menjadi Kunci
Jika pola tersebut dibaca dari perspektif pengembangan wilayah, Kendari mempunyai posisi strategis.
Bukan hanya sebagai ibu kota provinsi.
Kendari dapat dikembangkan sebagai:
Tourism Gateway of Southeast Sulawesi
Tempat wisatawan:
datang → menginap → mendapatkan informasi → menyewa kendaraan → terhubung dengan operator → menuju destinasi.
Dari Kendari, wisatawan dapat diarahkan menuju berbagai pengalaman:
Wakatobi
untuk wisata bahari dan diving.
Muna
untuk pantai, budaya dan pengalaman masyarakat.
Buton dan Baubau
untuk heritage dan sejarah.
Konawe Kepulauan
untuk island tourism dan alam.
Kabaena
untuk wisata bahari dan petualangan.
Dengan konsep tersebut, Kendari tidak harus menjadi tujuan akhir.
Kendari dapat menjadi pintu masuk menuju ekosistem pariwisata Sulawesi Tenggara.
Baubau Memiliki Peran Berbeda
Jika Kendari diposisikan sebagai gateway utama, Baubau mempunyai peluang menjadi gateway heritage dan marine tourism.
Kota ini memiliki modal sejarah yang kuat melalui warisan Kesultanan Buton.
Artinya, pengembangan akomodasi di Baubau tidak harus meniru hotel bisnis Kendari.
Ada ruang untuk:
heritage boutique hotel
cultural hotel
heritage walking tour
culinary tourism
marine tourism
hingga paket:
Baubau – Buton – Muna – Wakatobi.
Lalu, Hotel Apa yang Dibutuhkan?
Pertanyaan yang tepat bukan:
“Berapa banyak hotel yang harus dibangun?”
Tetapi:
“Hotel seperti apa yang dibutuhkan di setiap lokasi?”
Kebutuhannya berbeda.
Kendari
Business hotel – MICE – transit hotel – airport accommodation
Baubau
Heritage hotel – boutique hotel – cultural accommodation
Wakatobi
Diving resort – eco resort – marine resort – liveaboard support
Muna
Beach resort – cultural resort – island accommodation
Buton
Heritage + marine resort
Konawe Kepulauan
Island resort – eco lodge
Kabaena
Marine eco-resort – adventure lodge
Dengan demikian, investasi hotel harus mengikuti karakter demand, bukan sekadar mengikuti jumlah penduduk.
Sebuah Peluang Besar: Mengubah Friksi Menjadi Produk
Ada satu prinsip yang dapat menjadi dasar strategi pariwisata Sulawesi Tenggara:
Jangan hanya menghilangkan hambatan perjalanan. Ubah sebagian hambatan tersebut menjadi pengalaman wisata.
Perjalanan laut misalnya.
Jika hanya dianggap transportasi:
Kapal = biaya dan waktu.
Tetapi jika dikemas sebagai produk:
Kapal = island hopping experience.
Begitu pula desa pesisir.
Jika hanya dianggap lokasi yang jauh:
Desa = hambatan.
Tetapi jika dikemas:
Desa = cultural tourism experience.
Begitu juga kuliner lokal, kerajinan, tradisi masyarakat, sejarah, bahkan perjalanan menuju destinasi.
Semua dapat menjadi bagian dari tourism experience economy.
Dari Visitor Menjadi Overnight Tourist
Inilah target strategis yang seharusnya dikejar.
Bukan sekadar:
Visitor ↑
tetapi:
Visitor → Overnight Tourist → Extended Stay → Higher Spending
Alurnya:
Pesawat / Kapal
↓
Kendari / Baubau
↓
Hotel / Resort
↓
Destinasi
↓
Experience
↓
2–4 malam
↓
Kuliner + Transportasi + Atraksi + UMKM
↓
Pendapatan Pariwisata Daerah
Jika strategi ini berhasil, peningkatan ekonomi tidak harus selalu bergantung pada pertumbuhan jumlah wisatawan.
Meningkatkan lama tinggal saja sudah dapat menciptakan nilai ekonomi yang jauh lebih besar.
Sultra Tourism Sentiment Paradox
Dari pembacaan OSINT, muncul sebuah paradoks:
| Faktor | Kondisi |
| Keindahan alam | 🟢 Sangat kuat |
| Wisata bahari | 🟢 Sangat kuat |
| Budaya & heritage | 🟢 Kuat |
| Pasar domestik | 🟢 Besar |
| Arus mobilitas | 🟢 Besar |
| Kendari sebagai gateway | 🟢 Berpotensi kuat |
| Konektivitas | 🟡 Belum konsisten |
| Infrastruktur | 🔴 Masih menjadi friksi |
| Distribusi hotel | 🟡 Tidak merata |
| Lama tinggal | 🔴 Rendah |
| Belanja wisatawan | 🟡 Masih dapat ditingkatkan |
| Potensi investasi | 🟢 Tinggi |
Kesimpulannya cukup jelas.
Sulawesi Tenggara bukan kekurangan daya tarik.
Yang dibutuhkan adalah kemampuan untuk mengubah daya tarik tersebut menjadi perjalanan yang mudah, pengalaman yang berkualitas, masa tinggal yang lebih panjang, dan belanja wisata yang lebih besar.
Peluang Investasi Ada di Celah Itu
Bagi pemerintah, celah tersebut berarti:
infrastruktur + konektivitas + destinasi + promosi.
Bagi investor hotel:
location + product + demand + experience.
Bagi masyarakat:
homestay + kuliner + transportasi + guiding + UMKM + ekonomi kreatif.
Bagi operator perjalanan:
bundling + itinerary + island hopping + experience.
Dan bagi pemerintah daerah:
visitor economy.
Kesimpulan
Sulawesi Tenggara memiliki sesuatu yang tidak mudah dibangun dari nol:
Aset wisata yang nyata.
Lautnya ada.
Pulau-pulaunya ada.
Budayanya ada.
Sejarahnya ada.
Pasarnya ada.
Arus mobilitasnya juga ada.
Tantangannya adalah bagaimana semua aset tersebut dirangkai menjadi satu ekosistem pariwisata yang saling terhubung.
Karena itu, masa depan pariwisata Sulawesi Tenggara tidak seharusnya hanya diukur dari:
jumlah wisatawan yang datang.
Tetapi dari:
berapa lama mereka tinggal,
berapa banyak destinasi yang mereka kunjungi,
berapa banyak uang yang berputar di masyarakat,
dan seberapa besar masyarakat lokal mendapatkan manfaat.
Dan jika transformasi itu berhasil dilakukan, Sulawesi Tenggara tidak hanya menjadi daerah yang dikunjungi.
Ia dapat menjadi daerah yang membuat wisatawan berkata:
“Saya harus kembali.”
SULAWESI TENGGARA TOURISM INTELLIGENCE
Attraction → Accessibility → Experience → Accommodation → Extended Stay → Spending → Local Economy
Inilah rantai nilai yang perlu dibangun.
Bukan sekadar mendatangkan wisatawan.
Tetapi membuat setiap wisatawan yang datang menghasilkan nilai ekonomi yang lebih besar bagi Sulawesi Tenggara.

